Beranda | Artikel
Keindahan Surga
11 jam lalu

Keindahan Surga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 15 Sya’ban 1447 H / 3 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Keindahan Surga

Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan mengenai keadaan para penghuni surga. Beliau bersabda bahwa penduduk surga dapat melihat penghuni kamar-kamar yang berada di atas mereka, sebagaimana mereka melihat bintang yang terang benderang di ufuk timur atau barat. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan derajat di antara mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ فِي الْأُفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أَوِ الْمَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya penduduk surga mereka bisa saling melihat penghuni kamar-kamar di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang terang benderang yang menyisir di ufuk timur atau barat, karena adanya perbedaan kedudukan di antara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para sahabat kemudian bertanya apakah tempat-tempat yang tinggi itu hanya merupakan kedudukan para nabi dan rasul yang tidak mungkin dicapai oleh selain mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ

“Benar (tempat itu dapat dicapai), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan tentang tingkatan ahli surga yang berbeda-beda sesuai dengan amal perbuatan dan keutamaan iman masing-masing. Hal tersebut sejalan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا

“Dan setiap orang masing-masing memperoleh derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am[6]: 132)

Perbedaan derajat di surga ditentukan oleh kualitas keimanan, keikhlasan, dan ketaatan dalam mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seseorang yang melaksanakan shalat wajib disertai shalat sunnah, puasa Ramadhan disertai puasa sunnah, serta menunaikan zakat ditambah dengan sedekah sukarela, tentu memiliki kedudukan yang berbeda dengan mereka yang hanya mencukupkan diri pada amalan wajib saja.

Gambaran mengenai urusan ghaib di akhirat ini hendaknya mendorong setiap muslim untuk terus meningkatkan amal ibadah. Seorang hamba tidak boleh merasa terperdaya atau tertipu oleh amal kebaikan yang telah dilakukan, meskipun terlihat banyak. Sejatinya, masih sangat banyak hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih mulia dan lebih banyak amalnya.

Salah satu teladan luar biasa adalah kisah Rabiah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu (Abu Firas). Beliau adalah sahabat yang rajin membantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan sering bermalam di depan rumah beliau untuk menyiapkan air wudhu dan keperluan lainnya. Sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Mintalah kepadaku, niscaya aku akan memberimu.”

Rabiah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu tidak meminta harta atau kedudukan duniawi, melainkan beliau menjawab:

أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ

“Aku memohon kepadamu agar aku dapat menemanimu di surga.” (HR. Muslim)

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanyakan apakah ada permintaan lain, beliau menegaskan bahwa tidak ada keinginan lain selain menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam surga kelak.

Permintaan Rabiah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu untuk menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di surga disambut baik oleh beliau. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan akan memohonkan hal tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, namun beliau memberikan sebuah syarat yang sangat penting:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Maka bantulah aku atas dirimu (untuk mewujudkan permintaanmu) dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim)

Pesan ini bermakna perintah untuk memperbanyak shalat, baik yang wajib maupun yang sunnah. Rabiah bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu benar-benar menjalankan wasiat tersebut dengan penuh kesungguhan. Diriwayatkan bahwa kening dan kedua lutut beliau sampai menghitam karena sangat banyaknya sujud yang dilakukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kisah ini merupakan pelajaran bagi setiap muslim agar tidak terpedaya oleh amal yang dimiliki. Seseorang tidak boleh membanggakan dirinya hanya karena baru melakukan sedikit kebaikan atau baru menjalankan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama beberapa tahun. Sifat merasa paling hebat dalam dakwah atau paling sempurna dalam menjalankan sunnah adalah tipu daya yang harus dihindari. Kesadaran bahwa amal masih sedikit dan penuh kekurangan dibandingkan nikmat Allah ‘Azza wa Jalla akan mendorong seseorang untuk terus meningkatkan amal salehnya.

Tingkatan surga dan kenikmatan yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan amal perbuatan hamba-Nya. Agar sebuah amal bernilai tinggi di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, terdapat tiga syarat utama yang harus dipenuhi:

1. Ikhlas Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala: Amal harus murni ditujukan hanya untuk mengharap ridha Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia), sum’ah (ingin didengar dan dipuji manusia), atau sekadar mencari popularitas. Seorang dai atau pencari ilmu tidak boleh tertipu dengan sanjungan manusia yang menyebutnya hebat.

2. Sesuai dengan Tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Amal ibadah akan tertolak jika tidak memiliki dasar perintah atau contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun seseorang mengerjakannya dengan khusyuk dan sungguh-sungguh, amal tersebut tidak akan diterima jika termasuk perkara bid’ah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

3. Bersegera dan Tidak Menunda: Amal yang berkualitas adalah amal yang dikerjakan dengan segera tanpa menunda-nunda saat kesempatan itu datang. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ

“Maka berlarilah kembali kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat[51]: 50)

Makna berlari menuju Allah adalah bersegera mengerjakan amal saleh dan bertobat dari segala maksiat serta dosa yang pernah dilakukan.

Seorang mukmin harus senantiasa bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tidak mengerjakannya dengan setengah-setengah agar mendapatkan ganjaran yang maksimal. Kedudukan yang tinggi di surga dijanjikan bagi mereka yang memiliki iman yang kokoh dan membenarkan para rasul utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda beliau:

رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ

“(Mereka adalah) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meskipun setiap hamba diwajibkan melakukan sebab-sebab kebaikan, penting untuk disadari bahwa masuknya seseorang ke dalam surga dan pencapaian derajat yang tinggi bukan semata-mata karena amalnya, melainkan karena rahmat, karunia, dan anugerah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, seorang mukmin harus tetap optimis dan terus memohon rahmat-Nya dalam setiap sujud dan amalannya.

Perbandingan Dunia Dengan Kemegahan Surga

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai keutamaan surga dibandingkan dengan dunia. Beliau menjelaskan bahwa satu tempat yang kecil atau sempit di surga jauh lebih baik daripada dunia beserta isinya, yakni tempat di mana matahari terbit dan terbenam. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِمَّا تَطْلُعُ عَلَيْهِ الشَّمْسُ أَوْ تَغْرُبُ

“Sungguh, tempat sebesar busur panah salah seorang di antara kalian di surga lebih baik daripada segala sesuatu yang matahari terbit dan terbenam di atasnya (dunia).” (HR. Bukhari)

Hadits ini memberikan gambaran betapa agungnya nikmat yang Allah ‘Azza wa Jalla siapkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Di sisi lain, hal ini menegaskan betapa hinanya nilai dunia jika dibandingkan dengan akhirat. Nikmat yang ada di surga bersifat kekal dan tidak akan pernah terputus, melainkan terus-menerus diberikan sebagai balasan atas ketakwaan hamba selama hidup di dunia.

Pasar Di Surga Dan Keindahan Yang Terus Bertambah

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai keberadaan “pasar” di surga. Pasar yang dimaksud dalam hadits ini bukanlah tempat jual beli sebagaimana di dunia, melainkan tempat berkumpul dan bertemunya para hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktu-waktu tertentu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ في الْجنَّةِ سُوقاً يأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعةٍ. فتَهُبُّ رِيحُ الشَّمالِ، فَتحثُو في وُجُوهِهِمْ وثِيَابِهِمْ، فَيزْدادُونَ حُسْناً وجَمالاً. فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ، وقَدْ ازْدَادُوا حُسْناً وَجَمَالاً، فَيقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ حُسْناً وَجَمَالاً، فَيقُولُونَ: وأَنْتُمْ وَاللَّهِ لَقَدِ ازْددْتُمْ بعْدَنَا حُسناً وَجمالاً،

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat pasar yang mereka (penghuni surga) datangi setiap hari Jumat. Lalu bertiuplah angin utara yang mengenai wajah dan pakaian mereka, sehingga membuat mereka semakin tampan dan rupawan.

Setelah itu, mereka kembali kepada keluarga mereka dalam keadaan telah bertambah tampan dan rupawan. Keluarga mereka pun berkata: ‘Demi Allah, kalian benar-benar bertambah tampan dan rupawan.’ Mereka pun menjawab: ‘Kalian pun, demi Allah, sungguh telah bertambah cantik dan menawan setelah kami tinggalkan.`” (HR. Muslim)

Hadits tersebut memberikan gambaran yang sangat kontras antara kehidupan dunia dan akhirat. Di dunia, seiring bertambahnya usia, manusia akan mengalami penurunan fisik; rambut memutih, kulit keriput, dan tubuh semakin melemah. Hal tersebut merupakan fitrah manusia selama hidup di bumi.

Namun, bagi penghuni surga, hukum alam tersebut tidak berlaku. Semakin lama mereka tinggal di dalam surga, Allah Subhanahu wa Ta’ala justru menjadikan wajah dan keadaan mereka semakin indah serta bagus. Keindahan tersebut tidak memiliki batas akhir dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu. 

Kemegahan Dan Keindahan Surga Yang Tak Terbayangkan

Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai kedudukan para penghuni surga. Beliau menjelaskan bahwa penduduk surga dapat melihat kamar-kamar atau istana-istana di dalam surga sebagaimana mereka melihat bintang-bintang di langit. Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi dan mulianya derajat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu juga menceritakan pengalamannya saat hadir dalam sebuah majelis bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam majelis tersebut, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan gambaran yang sangat terperinci mengenai surga. Di akhir penjelasannya, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Di dalamnya terdapat kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Bukhari)

Surga menyimpan berbagai rahasia keindahan yang melampaui segala daya imajinasi manusia. Hal ini ditegaskan pula dalam Al-Qur’an melalui ayat yang dibacakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ 

“Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan oleh Allah untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati di surga kelak.” (QS. As-Sajdah[32]: 17)

Kehadiran Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘Anhu dalam majelis tersebut menunjukkan semangat para sahabat untuk selalu mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka menyadari bahwa beliau adalah sumber ilmu utama yang mendapatkan wahyu langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik melalui perantaraan Jibril  ‘Alaihis Salam maupun tanpa perantara.

Para sahabat senantiasa memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an serta penjelasan hadits mengenai hal-hal penting bagi kehidupan kaum mukminin. Penjelasan mengenai surga ini menjadi motivasi besar bagi setiap muslim yang berpegang teguh pada tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga akhir hayat. Kiranya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keistiqomahan di atas jalan yang hak serta menganugerahkan nikmat-nikmat tersebut kepada hamba-hamba-Nya.

Empat Jaminan Bagi Penghuni Surga

Abu Said Al-Khudri dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhuma meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai pengumuman agung saat seluruh penghuni surga telah masuk ke dalamnya. Pada saat itu, seorang penyeru akan mengumumkan empat jaminan utama bagi mereka:

إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا تَسْقَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا، وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا

“Sesungguhnya kalian akan tetap hidup dan tidak akan mati selamanya. Sesungguhnya kalian akan senantiasa sehat dan tidak akan sakit selamanya. Sesungguhnya kalian akan tetap muda dan tidak akan menua selamanya. Sesungguhnya kalian akan senantiasa mendapatkan nikmat dan tidak akan menderita selamanya.” (HR. Muslim)

Jaminan ini merupakan perkara ghaib yang wajib diimani. Penduduk surga akan menikmati kehidupan yang abadi, kesehatan yang sempurna, masa muda yang tetap, serta kebahagiaan yang tidak akan pernah terputus. Penduduk surga akan hidup kekal di dalamnya atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penting untuk dipahami bahwa kekekalan hamba di surga berbeda dengan kekekalan Allah ‘Azza wa Jalla. Kekekalan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat mutlak karena Dia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati selamanya. Sementara itu, hamba-hamba-Nya kekal di surga karena dikekalkan oleh Allah Ta’ala. Surga bersifat kekal semata-mata karena kehendak-Nya untuk menganugerahkan keabadian bagi para penghuninya. Pemahaman ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam membedakan sifat khalik dan makhluk.

Penduduk surga merupakan orang-orang yang senantiasa sehat walafiat. Di dalam surga, tidak ada makanan yang dapat menimbulkan penyakit. Sebagai bentuk kesempurnaan nikmat Allah Ta’ala, setiap penghuni surga akan selalu dalam kondisi bugar dan tidak akan pernah tertimpa penyakit sedikit pun.

Selain kesehatan, sifat penduduk surga adalah senantiasa muda. Mereka tidak akan mengalami proses penuaan, apalagi sampai mengalami kepikunan. Di surga tidak ada golongan lanjut usia karena semua penghuninya berada pada usia yang sama dan tetap muda selamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kebebasan sepenuhnya kepada mereka untuk menikmati segala anugerah yang telah disediakan tanpa batas.

Kemurahan Allah Bagi Penduduk Surga Terendah

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai kemurahan Allah ‘Azza wa Jalla, bahkan kepada penduduk surga yang paling rendah kedudukannya. Kepada orang tersebut diperintahkan untuk berangan-angan meminta apapun yang diinginkannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ أَدْنَى مَقْعَدِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَنْ يَقُولَ لَهُ تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى فَيَقُولُ لَهُ هَلْ تَمَنَّيْتَ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَقُولُ لَهُ فَإِنَّ لَكَ مَا تَمَنَّيْتَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Sesungguhnya kedudukan paling rendah di antara kalian di surga adalah seseorang yang dikatakan kepadanya, ‘Berangan-anganlah!’ Lalu ia pun berangan-angan. Setelah itu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah kamu sudah selesai berangan-angan?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya bagimu apa yang kamu angan-angankan dan yang semisalnya serupa dengan itu’.” (HR. Muslim)

Orang yang berada di derajat terendah tersebut dipersilakan membayangkan segala sesuatu yang indah dan bagus. Setelah ia menyampaikan semua keinginannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan angan-angan tersebut bahkan melipatgandakannya. Hal ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah ‘Azza wa Jalla bagi hamba-hamba-Nya di surga. Hendaknya setiap muslim senantiasa memohon dan berharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar termasuk ke dalam golongan yang mendapatkan nikmat-nikmat tersebut melalui karunia-Nya.

Puncak Keridhaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Di Dalam Surga

Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai dialog agung antara Allah ‘Azza wa Jalla dengan penduduk surga. Allah ‘Azza wa Jalla akan berseru, “Wahai penduduk surga!” Mereka menjawab, “Kami menjawab panggilan-Mu wahai Rabb kami, kami senantiasa taat kepada-Mu, dan segala kebaikan berada di kedua tangan-Mu, ya Allah.”

Allah ‘Azza wa Jalla kemudian bertanya “apakah mereka telah ridha dengan segala nikmat yang telah diberikan?”. Penduduk surga pun menjawab bahwa mereka telah ridha karena Allah telah memberikan anugerah yang tidak pernah diberikan kepada seorang pun dari hamba-hamba-Nya. Namun, Allah ‘Azza wa Jalla menawarkan sesuatu yang lebih utama daripada semua itu:

أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

“Aku halalkan bagi kalian keridhaan-Ku, maka Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan betapa agungnya rahmat Allah bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Meskipun mereka telah dikelilingi berbagai nikmat yang luar biasa, keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap menjadi anugerah yang paling tinggi. Ridha Allah adalah nikmat terbesar yang melampaui segala kemewahan fisik di surga, sehingga umat Islam hendaknya senantiasa berdoa dan memohon agar mendapatkan keridhaan-Nya.

Nikmat Melihat Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jarir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu mengisahkan bahwa suatu ketika para sahabat sedang bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau melihat ke arah bulan purnama di malam pertengahan bulan, kemudian bersabda:

إِنَّكُمْ ستَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِياناً كما تَرَوْنَ هَذَا الْقَمرَ، لاَ تُضامُونَ في رُؤْيتِهِ

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara langsung dengan mata kepala adalah salah satu prinsip aqidah yang diyakini oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Keyakinan ini bersumber dari Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yang diikuti oleh para salafus saleh. Kondisi di akhirat tidak dapat disamakan dengan kondisi di dunia. Jika di dunia Nabi Musa  ‘Alaihis Salam tidak mampu melihat Allah karena keterbatasan sifat kemanusiaan dan gunung pun hancur lebur saat Allah menampakkan keagungan-Nya, maka di akhirat Allah memberikan kemampuan kepada hamba-Nya yang beriman untuk merasakan nikmat tersebut.

Seorang mukmin tidak boleh mengukur kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla hanya dengan akal pikiran yang terbatas. Akidah yang lurus adalah mengimani setiap firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa pengingkaran. Nikmat memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah anugerah yang paling dicita-citakan oleh setiap orang yang benar-benar beriman kepada-Nya.

Hakikat melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak dapat dijangkau oleh akal manusia. Penyerupaan dalam hadits yang menyatakan bahwa kaum mukmin akan melihat Rabb mereka sebagaimana melihat bulan purnama bukanlah penyerupaan Dzat Allah dengan bulan, melainkan penyerupaan dalam hal kejelasan cara melihatnya. Maknanya, setiap penghuni surga akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sangat jelas tanpa harus berdesak-desakan. Hal ini adalah masalah akidah dan keyakinan yang berlandaskan Al-Qur’an:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya.” (QS. Al-Qiyāmah[75]: 22-23)

Umat Islam harus meyakini akidah ini dan berharap agar kelak diwafatkan di atas keyakinan tersebut, karena memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah nikmat terbesar yang diberikan kepada penduduk surga.

Kenikmatan Tertinggi: Memandang Wajah Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Hadits berikutnya:  Suhaib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda bahwa ketika penduduk surga telah masuk ke dalamnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menawarkan tambahan nikmat. Penduduk surga merasa heran karena wajah mereka telah dibuat berseri-seri, mereka telah dimasukkan ke surga, dan telah diselamatkan dari api neraka. Pada saat itulah, Allah ‘Azza wa Jalla membuka tabir-Nya:

فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

“Maka tidak ada satupun nikmat yang telah diberikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Rabb mereka, ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Perlu dicatat bahwa nikmat pembukaan tabir ini hanya diperuntukkan bagi penduduk surga. Adapun orang-orang kafir akan terhalang dari nikmat ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.” (QS. Al-Mutaffifīn[83]: 15)

PENUTUP KITAB RIYADHUS SHALIHIN

Imam An-Nawawi Rahimahullah menutup kitab Riyadhus Shalihin dengan hadits mengenai nikmat melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini menunjukkan kecerdasan dan pandangan jauh beliau sebagai bentuk doa serta harapan agar penulis dan pembaca kitab ini termasuk golongan mukmin yang meraih nikmat tertinggi tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُم بِإِيمَانِهِمْ ۖ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ . دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ ۚ وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan (beramal sholeh), niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir dibawahnya sungai-sungai. Doa mereka di dalamnya ialah, ‘Subhanakallahumma’ (Maha Suci Engkau, ya Allah), dan salam penghormatan mereka ialah, ‘Salam’ (bertasbih). Dan penutup doa mereka ialah, ‘Al-hamdu lillahi Rabbil ‘alamin’ (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).” (QS. Yunus[10]: 9-10)

Dengan ini, pembahasan kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi Rahimahullah telah selesai. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan semua pihak baik penulis, para ulama yang menjelaskan, maupun para pembaca dan pendengar ke dalam surga-Nya. Semoga seluruh amal ibadah ini diterima dan menjadi wasilah untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kesempatan melihat wajah-Nya di hari kiamat kelak. Amin Yaa Rabbal ‘alamin.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56059-keindahan-surga/